Sedang memuat ...
Nama desa: Desa Ciwangi
Kecamatan: Limbangan (sering disebut “Kecamatan Limbangan” dalam beberapa berita dan profil)
Kabupaten: Garut, Provinsi Jawa Barat
Tahun berdiri: Desa Ciwangi resmi dibentuk sekitar 1918 sebagai hasil penyatuan Desa Cianten dan Desa Buniwangi.
Luas wilayah: ± 1.746,095 hektar
Jumlah penduduk: sekitar 7.849 jiwa dengan 2.220 Kepala Keluarga (KK); komposisi laki-laki sekitar 4.077 orang dan perempuan sekitar 3.772 orang.
Desa Ciwangi berbatasan dengan beberapa desa sekitar:
Utara: Desa Pelita Asih, Kecamatan Selaawi
Selatan: Desa Pasirwaru, Kecamatan Balubur Limbangan
Barat: Desa Pangeureunan, Kecamatan Balubur Limbangan
Timur: Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi
Tipologi desa Ciwangi meliputi: persawahan, perladangan, perkebunan, peternakan, kerajinan & industri kecil, serta sektor jasa dan perdagangan.
Salah satu kegiatan peningkatan ekonomi lokal: pelatihan manajemen usaha tani yang fokus pada peran petani sebagai entrepreneur, sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan motivasi petani, juga mendorong peran ekonomi lokal yang lebih aktif.
Sejarahnya menarik: Desa Ciwangi terbentuk dari penyatuan dua desa yaitu Cianten dan Buniwangi karena perselisihan politik. Penyatuan dilakukan melalui musyawarah, yang akhirnya menjaga kerukunan dan persatuan budaya masyarakat setempat.
Desa ini memiliki situs budaya / warisan leluhur, yang disebut dalam berita: Gunung Sanghyang, Batara Guru, Batu Karut, Goa Kiara Jegang, Batu Goong, Batu Kanjut, makam Eyang‑Eyang seperti Sunan Rumenggong, Gagak Lumayung, Eyang Kapunduhan, dan lain‑lain.
Kesenian lokal dan budaya tradisional kuat: seni tradisi Sunda seperti terbang, gondang buhun, reog, calung, pencak silat, kerajinan anyaman seperti tampir, boboko, ayakan, nyiru, dingkul, bilik dll.
Terdapat SD Negeri 1 Ciwangi, alamat di Kampung Cipeujeuh, desa Ciwangi. Akreditasi “B”.
Ada juga SD Negeri 3 Ciwangi, di Kampung Sukasirna.
SD Negeri 2 Ciwangi juga ada, di Kampung Cianten.
Hari Jadi desa: Desa Ciwangi merayakan hari jadi ke‑107 di tahun 2025. Perayaan diwarnai berbagai seni budaya Kesundaan, menunjukkan bahwa budaya lokal masih sangat dihargai dan aktif dipelihara oleh masyarakat.
Potensi:
Tanah yang subur, hasil bumi melimpah, sehingga sektor pertanian memiliki basis yang kuat untuk menopang ekonomi desa.
Warisan budaya dan situs‑situs sejarah yang kaya bisa menjadi daya tarik wisata budaya atau edukasi, bila dikelola dengan baik.
Pendidikan dasar sudah tersedia di beberapa titik desa, membantu akses pendidikan bagi anak‑warga lokal.
Tantangan:
Menjaga kelestarian budaya di tengah modernisasi dan pengaruh luar, agar tradisi tidak hilang.
Peningkatan infrastruktur, terutama yang mendukung jalur usaha tani, akses pendidikan, transportasi, dan fasilitas umum lainnya agar lebih baik. (Tidak semua info infrastrukturnya tersedia secara publik).
Penyediaan fasilitas publik dan layanan umum (kesehatan, sanitasi, air bersih, listrik, internet) agar merata di seluruh wilayah desa.